Sabtu, 02 Mei 2015

Hubungan Internasional Negara Indonesia dengan Negara Malaysia


Negara adalah pengorganisasian masyarakat yang mempunyai rakyat dalam suatu wilayah tersebut, dengan sejumlah orang yang menerima keberadaan organisasi ini. Syarat lain keberadaan negara adalah adanya suatu wilayah tertentu tempat negara itu berada. Hal lain adalah apa yang disebut sebagai kedaulatan, yakni bahwa negara diakui oleh warganya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka pada wilayah tempat negara itu berada.

Di masa sekarang tentu tidak ada negara yang dapat berdiri sendiri. Salah satu faktor penyebab terjadinya hubungan internasional adalah kekayaan alam dan perkembangan industri yang tidak merata. Hal tersebut mendorong kerjasamaantar negara dan antar individu yang tunduk pada hukum yang dianut negaranya masing-masing. Hubungan internasional merupakan hubungan antar negara atau antarindividu dari negara yang berbeda-beda, baik berupa hubungan politis, budaya, ekonomi, ataupun hankam.

Hubungan antara Indonesia dan Malaysia beberapa kali mengalami pasang surut. Sebagai dua negara yang bertetangga, bahkan sering disebut negara serumpun, potensi kerjasama maupun potensi konflik antar dua negara tersebut besar.

Bidang Pendidikan

Dalam bidang pendidikan, antara Indonesia dan Malaysia menjalin hubungan dengan mengadakan pertukaran pelajar setiap tahunnya.

Bidang Ekonomi

Banyaknya investor-investor dari Malaysia yang berinvestasi di Indonesia telah membantu pemerintah Indonesia di dalam mengentaskan pengangguran. Investor dari Malaysia banyak menanamkan investasinya dalam industri perkebunan kelapa sawit. Hal ini tentu menguntungkan bagi kedua belah pihak. Selain itu, di Malaysia juga banyak di tempatkannya Tenaga Kerja dari Indonesia yang bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT), petugas medis, pekerja bangunan serta tenaga profesional lainnya.

Hubungan di bidang ekonomi, pihak Malaysia banyak yang menanamkan investasinya di Indonesia. Sehingga dapat mengurangi pengangguran di Indonesia. Bentuk investasi itu misalnya dengan adanya industri perkebunan kelapa sawit. Selain itu, banyak tenaga kerja Indonesia yang ditempatkan di Malaysia sebagai petugas medis pekerja bangunan serta tenaga profesional. Hal tersebut tentu sangat menguntungkan kedua belah pihak.

Dampak positif :

- Memperluas lapangan kerja di Indonesia
- Indonesia mendapakan pemasukan negara

Dampak negatif :

- Jika perjanjian dilanggar oleh salah satu pihak, maka dapat menimbulkan perselisihan.

Konflik yang sering terjadi pada akhir-akhir ini antara negara Indonesia dengan Negara Malaysia yaitu terkait bidang kebudayaan. Salah satu konflik yang terjadi antara negara Indonesia dan Malaysia dalam bidang kebudayaan yaitu mengenai rencana “penta’rifannya” terhadap tarian Tor-tor dan alat musik Gordang Sambilan, yang dikemukakan Datuk Sri Rais Yatim dalam pertemuyannya dengan paguyuban Mandailing Malaysia. Penta’rifan tersebut diartikan oleh kelompok tertentu sebagai pengkaliman Malaysia terhadap budaya asal mandailing tersebut, sehingga menimbulkan berbagai aksi protes dan kecaman dari berbagai golongan masyarakat Indonesia.

Padahal istilah “penta’rifan” asal kata dari bahasa Arab “arafa” artinya pengenalan atau sosialisasi bukan klaim seperti dianggap oleh kelompok masyarakat tertentu. Kesalahpahaman informasi tersebut begitu cepat beredar di media massa dan apalagi  dunia maya hingga dengan sangat cepat pula menyebar berita terkait keberbagai kalangan masyarakat dengan beragam pula persepsinya yang direalisasikan dalam beragam pula tindakannya.

Dari berbagai permasalahan itu, kesan umum yang berkernbang di Indonesia adalah bahwa Malaysia adalah negara yang semakin arogan, menginjak wibawa Indonesia dan tidak pantas balas budi. Di media bahkan disarankan bahwa untuk mendapatkan kembali respek Malaysia terhadap Indonesia, seharusnya Indonesia tidak segan-segan melakukan konfrontasi separti zaman Sukarno ataupun meningkatkan kemampuan tempur. Tidak sedikit yang menyarankan bahwa sudah saatnya Malaysia diberi pelajaran dari kesemena-menaan kebijakan mereka.

Masyarakat Indonesia harus dapat menghadapi masalah ini dengan tenang dan mempercayakan penyeselesaiannya di lakukan oleh Pemerintah. Kenapa harus tenang karena di Malaysia orang-orang keturunan Indonesia yang menetap dan membawa kebudayaan Indonesia serta melestarikannya. Sehingga kita sebagai bangsa Indonesia tidak dapat menyalahkan seratus persen pengklaiman negara Malaysia tersebut.

Sumber Referensi



Minggu, 08 Maret 2015

Komnas HAM: Penangkapan Bambang Widjojanto pelanggaran HAM

Mata Kuliah               : Pendidikan Kewarganegaraan

Dosen                        : Cucu Cahyati

Artikel Tentang Hak Asasi Manusia (HAM)

Rabu, 4 Februari 2015




Merdeka.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan terdapat pelanggaran HAM dalam penangkapan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) Bambang Widjojanto oleh penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.


"Ada abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan) dan penggunaan kekuasaan yang eksesif," kata Komisioner Komnas HAM Roichatul Aswidah di Jakarta, Rabu (4/2).

Roichatul mengatakan, proses penangkapan Bambang Widjojanto tak bisa dilepaskan dari penetapan Komjen Pol Budi Gunawan sebagai tersangka tindak pidana korupsi oleh KPK.

"Kita melihat pada peristiwa-peristiwa sebelumnya (penetapan tersangka Budi Gunawan) dan tidak bisa dikatakan sebagai sebuah kebetulan," kata Roichatul.


Selain itu, Komnas HAM menilai ada penggunaan kekuasaan yang eksesif oleh Polri dalam proses penangkapan Bambang.

Roichatul mencontohkan adanya upaya penggunaan senjata laras panjang dalam proses penangkapan. Hal tersebut dibuktikan dari video rekaman proses penangkapan Bambang dari kepolisian.

Komnas HAM juga menilai ada pelanggaran dalam proses penangkapan yang dilakukan oleh Bareskrim Polri dengan tidak mendahului dengan surat pemanggilan seperti yang tertuang dalam Peraturan Kepala Polri Nomor 14 Tahun 2012.


Penanganan perkara tersebut dinilai telah melampaui langkah yang seharusnya dan keluar dari praktik yang selama ini dilakukan oleh Polri.

Roi juga mengatakan Komnas HAM menyimpulkan penanganan proses terhadap Bambang dilakukan secara tidak jujur. "Penanganan proses perkara Bambang dilakukan dengan tidak jujur," kata Roichatul.

Komnas HAM mengeluarkan keputusan tersebut berdasarkan informasi dan data yang dikumpulkan oleh tim terhadap jajaran pimpinan KPK, Wakapolri Komjen Pol Badrodin Haiti, Kabareskrim Irjen Pol Budi Waseso, dan sejumlah pakar lainnya.


Tujuan :


Tujuan saya menanggapi artikel tentang Penangkapan Bambang Widjojanto pelanggaran HAM, agar dapat mengurangi atau menghentikan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang ada di Indonesia. karena setiap manusia di dunia ini tanpa terkecuali memiliki hak masing - masing, tentu saja dengan kewajiban yang harus dilaksanakan secara seimbang dengan hak yang mereka dapat.

Tanggapan :

Menurut saya penangkapan Bambang Widjojanto melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), karena penangkapan tersebut tidak dengan menggunakan surat pemanggilan terhadap Bambang Widjojanto, melainkan dengan langsung menjemput paksa Bambang Widjojanto. Tentu saja hal ini melanggar Peraturan Kepala Polri Nomor 14 Tahun 2012.

Saya tidak mengerti apa yang mejadi motif penangkapan Bambang Widjojanto, apakah karena sedang terjadi kisruh antara KPK dengan POLRI. Bambang Widjojanto adalah wakil ketua KPK. Menurut saya Bambang Widjojanto harus terus maju dan tidak boleh gentar terhadap tuduhan apapun sebelum ada bukti yang nyata. Jika Bambang Widjojanto benar tidak melakukan kesalahan buat apa takut. Biar hukum yang memutuskan.

Semoga tidak terjadi lagi kasus mengenai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), karena setiap manusia di muka bumi ini mempunyai hak dan kewajibannya masing - masing. 








Minggu, 15 Februari 2015

Arsitektur dan Lingkungan, Ekologi Arsitektur, dan Bangunan Hemat Energi

Arsitektur berwawasan lingkungan sering juga disebut dengan “Arsitektur Ekologis” yang menjurus ke pembangunan yang memanfaatkan semua potensi yang berada di alam tanpa merusak atau mengganggu lingkungan sekitar.


Pembangunan harus melihat keadaan dan kondisi lingkungan sekitar dan iklim yang ada. Penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbaharu, memaksimalkan penggunaan tenaga matahari dan angin, serta pembangunan yang berorientasi kepada arah mata angin untuk menciptakan bukaan dan pencahayaan yang maksimal sehingga tidak terlalu menghabiskan energi seperti penggunaan listrik yang berlebihan.

Arsitektur ekologi itu sendiri mempunyai tiga prinsip yang harus diperhatikan yaitu; 1. Fluktuasi 2. Stratifikasi 3. Interdependence (saling ketergantungan).

Dasar-dasar ekologi arsitektur menjurus kepada penggunaan material hemat energi, penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan, dan peka terhadap keadaan iklim. Sehingga tercipta sebuah desain yang bersifat go green.

Membahas tentang bangunan yang bersifat go green, sekarang ini seluruh dunia semarak mendesain dan membangun bangunan yang menerapkan konsep ini. berawal dari kesadaran akan mulai menipisnya sumber daya alam yang tidak dapat terbaharui maka para arsitek mendesain bangunan-bangunan yang memanfaatkan tenaga dari alam seperti matahari dan angin.


Bangunan hemat energy, Green construction atau konstruksi hijau adalah sebuah gerakan berkelanjutan yang mencita-citakan terciptanya konstruksi dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan pemakaian produk konstruksi  yang ramah lingkungan, efisien dalam pemakaian  energi dan sumber daya, serta berbiaya rendah.

Gerakan konstruksi hijau ini juga identik dengan sustainbilitas yang mengedepankan keseimbangan antara keuntungan jangka pendek terhadap resiko jangka panjang, dengan bentuk usaha  saat ini yang tidak merusak kesehatan, keamanan dan kesejahteraan masa depan.  Perencanaan konstruksi hijau ini menghasilkan  desain  sistem bangunan yang effisien dalam menggunakan  energi, menggunakan material yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dan digunakan kembali serta mendukung konsep efisiensi energi.

Pemilihan material  yang dapat diperbaharui,  di daur ulang dan digunakan kembali  diharapkan dapat meninggalkan jejak yang sesedikit mungkin pada lingkungan. Semua konsep keberpihakan terhadap lingkungan tersebut juga mempertimbangkan efektivitas biaya dan kemudahan pemeliharaan, sehingga memberikan keuntungan bagi para stake holder proses konstruksi tersebut. Aplikasi dari konstruksi hijau pada tahap perencanaan terlihat pada beberapa desain konstruksi yang memperoleh award   sebagai desain bangunan yang hemat energi, dimana sistem bangunan yang didesain dapat mengurangi pemakaian listrik untuk pencahayaan dan tata udara.

Selain itu berbagai terobosan baru dalam dunia konstruksi juga memperkenalkan berbagai material struktur yang saat ini menggunakan limbah sebagai salah satu komponennya, seperti pemakaian fly ash, silica fume pada beton siap pakai dan beton pra cetak. Selain itu terobosan sistem pelaksanaan konstruksi juga memperkenalkan material yang mengurangi ketergantungan dunia konstruksi pada pemakaian  material kayu sebagai perancah.

Di Indonesia sendiri memiliki standar-standar yang harus ada dalam bangunan hemat energi, yaitu:

SNI 6389:2011, Konservasi energi selubung bangunan pada bangunan gedung.
SNI 6390:2011, Konservasi energi tata udara bangunan gedung.
SNI 6197:2011, Konservasi energi pada sistem pencahayaan.
SNI 6196:2011, Prosedur audit energi pada bangunan gedung. 

GEDUNG HEMAT ENERGI DI DUNIA
PEARL RIVER TOWER
Pearl River Tower yang berdiri kokoh di Guangzhou, China, disebut sebagai salah satu arsitektur paling hemat energi di dunia. Dirancang oleh sebuah perusahaan yang berbasis di Chicago, Skidmore, Owings & Merrill (SOM), tujuan awal dari desain Pearl River Tower adalah untuk membangun sebuah gedung hemat energi.

Bangunan megah itu mengonsumsi energi 60% lebih sedikit dari bangunan dengan ukuran serupa. Pearl River Tower memanfaatkan angin untuk memenuhi kebutuhan energinya, yang mengarahkan angin ke empat bukaan di lantai mekanik bangunan tersebut.

Selain mengemudikan turbin, angin yang ditarik juga diarahkan seluruh sistem ventilasi menara.

Sumber Referensi :



Arsitektur dalam Penanggulangan Banjir dan Sistem Penyimpanan Air

Zaman dahulu banyak orang menerapkan prinsip “Drainase Konvensional”, yaitu system saluran air yang direncanakan untuk membuang dan mengalirkan kelebihan air langsung ke sungai dan saluran- saluran air. Akibatnya, banyak sungai yang meluap karena debit yang mengalir melebihi batas dan mengakibakan banjir dimana- mana.

Akhirnya konsep ini pun mulai ditinggalkan, dan sekarang ini telah banyak yang menerapkan prinsip “Drainase berwawasan Lingkungan”, yaitu usaha untuk tidak hanya mengalirkan air saja, tapi juga meresapkannya ke dalam tanam (water harvesting) sehingga kekeringan pun dapat diminimalisir karena muka air tanah akan bertambah.


Berikut ini beberapa prinsip drainase berwawasan lingkungan untuk menanggulangi banjir dan sebagai system penyimpan air : 

1.    Membuat lubang biopori :



Ditemukan : Ir. Kamir R. Brata, MSc. Dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian, IPB. Ini merupakan rekayasa teknologi sederhana untuk meresapkan air. Kelebihannya : sederhana, murah dan mudah, efektif, efisien, dan ramah lingkungan. Dan sampai saat ini di Bogor telah ada lebih dari 22000 lubang biopori sebagai solusi untuk mengatasi banjir. Dan uniknya3000 mahasiswa ITB berpatispasidalampembuatan biopori tersebut.

2.    Sumur resapan :


Merupakan salah satu rekayasa teknik konservasi air berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai tempat menampung air hujan yang jatuh di atas atap rumah atau daerah kedap air dan meresapkannya ke dalam tanah.

Sumur resapan dinilai 4x lebih efektif dalam meresapkan air hujan daripada pohon. Karena pohon akan menguapkan kurang lebih 80% air yang diserap, sedangkan sumur resapan justru dapat meresapkan air kurang lebih 80% . Desain sumur resapan ini dapat menggunakan buis beton, dengan kedalaman 3- 4m dengan diameter 1m. Dilengkapi dengan ijuk dan pasangan batu kali pada setiap ruas sambungan buis beton sebagai filter air yang meresap.

3.    Mengganti Paving Block dengan Grass Block :


Jalan yang telah tertutup dengan paving block akan membuat air tidak dapat meresap langsung ke tanah, akibatnya air akan menggenang, dan memicu terjadinya banjir. Oleh sebab itu, penggantian paving dengan grass block dapat membantu meresapkan air hujan ke tanah lebih cepat, karena permukaannya yang berlubang. Sehingga genangan air dapat diminimalkan, air dapat diresapkan dan disimpan ke dalam tanah, serta dapat mencegah potensi terjadinya banjir.

4.    Modifikasi Lansekap :


Modifikasi lansekap untuk memanen air hujan sedang banyak dikerjakan di beberapa negara maju, seperti di Kanada, Jerman dan Jepang. Salah satu caranya adalah mengganti jaringan drainase suatu kawasan dengan cekungan- cekungan di berbagai tempat (modifikasi lansekap), sehingga air hujan akan tertampung di lokasi cekungan tersebut. Cara modifikasi lansekap  ini ternyata dapat menekan biaya konstruksi jaringan drainase suatu kawasan lebih dari 50 persen.

Di Indonesia, metode ini secara tradisional sebenarnya sudah berkembang. Masyarakat “memodifikasi lansekap” mereka dengan membuat parit- parit kecil, cekungan-cekungan dangkal di pekarangan, sengkedan/ terasering, dll

5.    Retarding Basin (Kolam retensi) :


Implementasi metode retarding basin adalah penyelesaian banjir di wilayah hilir Sungai Rhine di Eropa. Untuk mengurangi banjir yang menerjang kota- kota di wilayah Jerman dan Belanda bagian hilir, dimulailah (integriertes Rheisprogram) dengan membuat retarding basin- retarding basin di sepanjang Sungai Rhine di bagian tengah dan hulu, mulai dari kota Karslruhe (di perbatasan Perancis dan Jerman) sampai ke kota Bassel di perbatasan Jerman, Swiss, dan Austria.

Filosofi metode ini adalah mencegat air yang mengalir dari hulu dengan membuat kolam-kolam retensi (retarding basin) sebelum masuk ke hilir. Retarding basin dibuat di bagian tengah dan hulu kanan-kiri alur sungai-sungai yang masuk kawasan yang akan diselamatkan. Retarding basin harus didesain ramah lingkungan, artinya bangunannya cukup dibuat dengan mengeruk dan melebarkan bantaran sungai, memanfaatkan sungai mati atau sungai purba yang ada, memanfaatkan cekungan-cekungan, situ, dan rawa-rawa yang masih ada di sepanjang sungai, dan dengan pengerukan areal di tepi sungai untuk dijadikan kolam retarding basin.

Disarankan, dinding retarding basin tidak diperkuat pasangan batu atau beton karena selain harganya amat mahal, juga tidak ramah lingkungan dan kontraproduktif dengan ekohidraulik bantaran sungai. Desain retarding basin cukup diperkuat dengan aneka tanaman sehingga secara berkelanjutan akan meningkatkan kualitas ekologi dan konservasi air. Untuk penanganan banjir di Jakarta, retarding basin dapat dibuat di bagian tengah dan hulu dari 13 sungai yang mengalir ke jantung kota Jakarta, seperti Sungai Ciliwung, Cisadane, Mookervart, Pesanggrahan, Grogol, Krukut, Kali Baru Barat, Cipinang, Sunter, dan Cakung.



Sumber Referensi :






Sisi Fungsional dan Spiritual Arsitektur Jawa pada Rumah Joglo



Setiap kali kita memasuki rumah Joglo sebagai rumah adat Jawa, kita bukan sekedar memasuki sebuah gedung melainkan sebuah alam pikiran atau pandangan hidup (world view) tertentu. Bagi orang Jawa, rumah bukan hanya tempat tinggal secara fisik (house) melainkan tempat di mana jiwa menemukan tempat berdiam (home). Dengan kata lain, bagi orang Jawa, rumah berfungsi baik fisikal maupun spititual. Sebuah fungsi yang kian terkikis dalam arsitektur modern yang lebih memandang rumah dari fungsi fungsi fisiknya daripada spiritual.


Rumah joglo mempunyai kerangka bangunan utama yang terdiri dari soko guru, yaitu empat tiang utama penyangga struktur bangunan, serta tumpang sari berupa susunan balok yang disangga oleh soko guru teresebut. Empat tiang utama ‘saka guru’ itu berada di pusat rumah, sebagai center of universe dari kosmologi orang Jawa. Pada pusat tersebut, bangunan rumah kemudian melebar dengan menambah tiang-tiang lain di sekitarnya, baik di kanan, kiri, depan maupun belakang, hingga membentuk sebuah rumah.

Cara orang Jawa membangun rumah, dengan soko guru sebagai pusat rumah dan tiang-tiang lain mengikuti di sekelilingnya, mirip dengan cara pandang masayarakat Jawa dalam melihat masyarakat. Sultan ditempatkan berada di pusat dunia, yang mengendalikan tatanan (Hamengkubuono) atau yang “menggenggam bumi” (Pakubumi) atau “mengendalikan alam” (Paku Alam). Di pusatnya, pandangan kemudian bergerak melebar dengan disangga daerah-daerah lain di sekitarnya, mulai kabupaten sampai desa. Maka, tatanan rumah, politik, sosial dan spiritual Jawa mempunyai kemiripan atau paralelitas satu sama lain. Inilah yang disebut dengan desain mandala dalam kajian kosmologi tradisional dan arkais.

Konstruks tumpang sari pada soko guru Rumah Joglo


Rumah Joglo dibagi ke dalam tiga bagian/ruang. Pendapa merupakan ruangan pertemuan di mana tuan rumah menemui para tamu. Pendopo tidak mempunyai dinding atau terbuka, yang artinya orang Jawa ingin bersikap ramah kepada orang lain. Umumnya, pendopo hanya diberi tikar, tanpa meja dan kursi. Tujuannya agar tidak ada batas yang tegas antara tuan rumah dan para tamunya karena bisa berbincang dengan rukun dan akrab.

Kemudian ruang Pringgitan. Terletak di tengah atau ruang yang dipakai untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit. Secara konseptual, makna pringgitan di mana sosok guru berdiri, adalah ruang yang melambangkan pemilik rumah sebagai simbol atau bayang-bayang  dari Dewi Sri (dewi padi) yang memberi kehidupan kehidupan, kesuburan, dan kebahagiaan (Hidayatun, 1999:39). Menurut Rahmanu Widayat (2004: 5), pringgitan adalah ruang antara pendhapa dan dalem (omah jero) sebagai tempat untuk pertunjukan wayang (ringgit), pertunjukan wayang yang berhubungan dengan titual ruwatan untuk anak sukerta (anak yang menjadi mangsa Bathara Kala, dewa raksasa yang maha hebat).

Konstruksi Rumah Joglo


Bagian terakhir adalah omah jero, yaitu ruang belakang atau dalem sebagai ruang keluarga. Ruang ini memiliki beberapa bagian, yaitu ruang keluarga dan beberapa kamar atau yang disebut senthong. Dulu, kamar atau senthong hanya dibuat tiga kamar saja, yaitu kamar pertama untuk tidur atau istirahat laki-laki, kedua kamar kosong namun tetap diisi tempat tidur atau amben lengkap dengan perlengkapan tidur untuk tamu dan kebutuahn lain, dan yang ketiga diperuntukkan tempat tidur atau istirahat bagi kaum perempuan.

Di ruang ndhalem disimpan harta pusaka spiritual serta padi hasil panen pertama. Juga ada kamar senthong krobongan yang berisi ranjang, kasur, bantal, dan guling, sebagai kamar malam pertama (buka klambu) bagi para pengantin baru. Hal tersebut dikarenakan, bagi orang Jawa, hilangnya keperawanan dan keperjakan merupakan peristiwa kosmis yang suci, merujuk pada penyatuan Dewa Kamajaya dengan Dewi Kama Ratih, yaitu dewa-dewi cinta perkawinan (Mangunwijaya, 1992: 108).

Dalam rumah Jawa dari kelas bangsawan Yogyakarta, senthong krobongan diisi dengan bermacam-macam benda-benda keramat untuk memediasi pemiliknya dengan dunia suci (sakral). Macam-macam benda tersebut berbeda dengan benda-benda milik petani. Artinya,  kepemilikan benda tersebut menjadi penanda adanya perbedaan status. Namun begitu, keduanya sama-sama berkaitan dengan kesuburan, kebahagiaan rumah tangga (Wibowo dkk., 1987 : 63).

Melihat gambaran di atas, kita melihat adanya prinsip hirarki dalam tata ruang rumah Jawa. Setiap ruang memilii fungsi, makna dan nilai sendiri.  Jejeran ruang mulai pendopo sampai bagian belakang (pawon dan pekiwan) unsur spiritualnya lebih kuat daripada fungsionalnya. Memasuki rumah Jawa, mulai dari teras hingga ke bagian ndhalem ini, kita seperti sedang menuju pusat sebuah dunia dari arah pinggirannya, tak ubahnya menangkap inti cahaya suci dari pijar pancarannya di tepian. Membangun dan menempati rumah, dengan demikian, bagi orang Jawa merupakan sebuah ritual alias ibadah, yang dilakukan dengan kecakapan teknis sekaligus estetis.


Sumber Referensi :



Karya Arsitektur Dalam Negeri (Gereja Protestan Semarang)



Di pusat kota lama Semarang, terdapat sebuah gereja Protestan dibangun lama sebelum kedua gereja tersebut di atas yaitu tahun (1778 – 1814). Direncanakan oleh dua arsitek Belanda, W. Westmaans i.s.m dan H.P.A de Welde. Sepintas lalu kelihatan mirip dengan gereja Immanuel  Jakarta, tetapi apabila kita amati lebih jauh maka keduanya berbeda cukup banyak.

Yang pertama mengenai lokasinya, Gereja Protestan tidak terletak pada halaman luas seperti Gereja Immanuel tetapi pada pusat kota lama yang padat tanpa halaman. Lantai dasar Gereja Protestan Semarang hanya tiga trap tidak lebih dari 60 cm dari tanah. Sedangkan Gereja Immanuel pada landasan cukup tinggi yang menambah kesan monumentalnya. Unit utamanya tidak berbentuk rotunda, tetapi segi delapan, suatu bentuk yang jarang digunakan untuk gereja. Gereja Protestan juga mempunyai pintu masuk dari keemapt arah mata angin dalam hal ini setiap pintu masuk mempunyai  porch atau konstruksi menempel bangunan utama untuk peralihan luar-dalam. Yang di selatan sebagai pintu masuk utama, terbesar berupa portico. Sedangka yang di Semarang lebih banyak mendapat pengaruh Renaissance, Itali juga Romawi.

Kedua Gereja mempunyai kubah tetapi Gereja Protestan Semarang jauh lebih cembung. Selain adanya kubah, persamaan antara keduanya juga ada yaitu bentuk melingkar dari  nave atau ruang umat di bawah kubah, penempatan organ dan koor dan kolom-kolom Dorik dan Romawi Corinthian. Nave hexagonal tersebut dikelilingi oleh nave arcade juga segi delapan. Kubah di atas dan mengatapi nave sangat besar mendominasi bagian atas, bergaya Byzantine.

Dalam Gereja Protestan Semarang arsieknya menerapkan konsep koreksi perspektif dalam kecekungan plafon tidak sama dengan bentuk kubahnya. Dengan demikian Karena letak kubah dari luar diketinggian hanya dilihat dari jauh, akan memberikan kesan seoah-olah sama dengan kecekungan plafon yang jarak pandangnya lebih dekat. Keempat pintu masuk di utara, selatan, barat dan timur mempunyai kolom-kolom dan dekorasi Corinthian,menyangga pediment Yunani. Aspek klasik lainnya digabung secara eklektik pada Gereja Protestan yang karena kubahnya sangat besar sehingga disebut Gereja Blenduk ini, dapat terlihat pada menara lonceng kembar, mengapit  portico pintu masuk utama. Kedua menara kembar tersebut juga beratap kubah tetapi jauh lebih kecil dari kubah utama.


Sumber Referensi :


Karya Arsitektur Luar Negeri (London Bridge Tower)



Bagian puncak menara  dari tower seperti tiang kapal yang tinggi , mengikuti konsep dimana arsitektur  harus menggunakan memory  menjadi bagian dari bangunan. Itu sebabnya Renzo mengadopsi bentukan kapal Layar Thames yang legendaris(yang mengarungi  lautan dekat London Bridge). Untuk puncak menara dari tower juga mengambil bentukan puncak menara sebuah gereja. Disini  terlihat adanya kecocokan antara objek dan tema, seperti yang dinyatakan oleh Culquhuon dalam “Three Kinds of Historicism” yaitu terbentuknya bentukan baru yang yang berkelanjutan dibawah gerak  sosial , perkembangan teknologi dan representasi simbol.

Obyek postmodern memperhatikan tradisi masa lalu. Hal ini seperti yang dihadirkan oleh Renzo mengadopsi bentukan kapal layar Thames yang memiliki nilai kesejarahan tersendiri ,begitu pula dengan puncak gereja. Bila hal ini ditilik dari pengadopsian bentukan terasa klop dengan teori milik Robert Venturi yang menekankan adanya pencomotan elemen original. Bangunan Renzo ini kiranya kemungkinan dapat mempresentasikan teori milik Venturi dan dapat dikategorikan kedalm kelompok tema sejarah dan kesejarahan
Sikap postmodern dalam hubungannya dengan pembaruan

Salah satu hal yang paling membuat bingung adalah istilah yang sering kali dipakai untuk mendeskripsikan  kondisi modern .Beberapa usaha yang dilakukan berkaitan dengan pendeskripsian kondisi modern menghindari perbedaan persepsi dibedakan menjadi anti modern dan promodern


Teori  yang melandasi anti modern

Mencari perubahan radikal dengan melakukan pembaruan , menawarkan alternatif  baik orientasi kedepan ataupun mundur kebelakang (kebangkitan tradisional).Posisi postmodern melindungi sejarah dan dalam arsitekturnya  nilai-nilai estetis klasik seperti tiruan dan ornamen kembali diperjuangkan.

Teori anti modern ini lebih condong memunculkan  aliran baru yang memusuhi modern ingin memunculkan kembali ornamen masa lampau yang dihindari oleh modern. Teori yang melandasi Promodern, merupakan kebalikan dari postmodern  yang ingin lebih meluaskan modern dan melengkapi budaya tradisi modern  dan kemudian mentransformasikannya. Modernisme sebagai program kritik diri yang menjanjikan memelihara kualitas tinggi dari seni masa lalu pada masa sekarang ini  dan juga untuk memastikan kelanjutan dari estetis sebagai suatu nilai.

Terjadinya kekecewaan terhadap modern  yang diakibatkan beberapa hal yaitu kurang efektif dalam memecahkan permasalahan sosial ,kurang identifikasi sosial, kurangnya ketaatan dan kurangnya kecintaan terhadap diri sendiri

Teori dari makna

 “ Saya memandang makna sebagai suatu ide yang fundamental dalam arsitektur dan ide dari segala bentuk di lingkungan atau tanda dalam bahasa , yang membantu menjelaskan mengapa bentuk bisa mendadak menyeruak hidup dan terkadang terkesan hancur berkeping. Selama ada dalam masyarakat maka setiap kegunaan akan diubah dengan sendirinya menjadi sebuah tanda contoh sederhana seperti sebuah jas hujan yang melindungi kita dari hujan, tidak dapat dilepaskan dari tanda yang mengindikasikan situasi di atmosfer, jas hujan identik dengan tanda akan turun hujan.jas hujan akan dipisahkan dari maknanya jika guna sosialnya menurun atau masyarakat  secara expisit menyangkal maknanya lebih lanjut”

Teori ini dikemukakan oleh  Charles Jencks yang merupakan penjelasan mengenai pentingnya makna dari sebuah bangunan akan dapat memberikan jiwa, menghidupkan  existensi dari bangunan itu sendiri.Teori ini berkaitan dengan  tema makna yang memandang tujuan dari arsitektur bukan hanya menciptakan tempat hunian untuk bernaung namun jug sebuah karya yang sarat makna bahkan didasari konsep yang mampu menceritakan asal-usul terjadinya bentukan.



Sumber Referensi :